Rupawan dengan manik setajam parang itu kini tak lagi menatapmu sebagai prioritasnya, entah sejak kapan, namun yang jelas kamu mulai merasa terabaikan. “Sayang...” panggil mu manis, mencoba meraih belah dagunya untuk mendaratkan satu kecupan manis disana. Heeseung belum menyadari tindakan mu itu, dia masih bergelut pada materi yang coba ia pahami, “hm?” itu bukan jawaban, melainkan bentuk pengabaian yang selama ini kamu terima. Much!... Lengan mu berada didadanya, satu lagi menjemput kelopak tipis itu, kamu menciumnya begitu lembut, berharap Heeseung bisa sedikit berpaling dari kesibukannya selama ini. “Eumph, s-stop okey?. Dua hari lagi aku ada olimpiade fisika, sayang. Harusnya kamu bantuin aku buat pahami semua materi ini,” resah diwajah itu dapat kamu sadari lebih cepat ketimbang kepekaan sang pria dalam menghadapi kamu yang merasa terabaikan. “Jadi kamu ajak aku ketemuan buat bantuin kamu lomba?, aku bilang dichat aku kangen sama kamu, Heeseung!. Kamu ngerti gak sih!” nada manis mu berubah jadi bentakan yang keras. “Aku tau sayang, makanya aku dengerin kamu dari tadi,” “Enggak!, kamu gak dengerin aku, kamu cuma diam, sibuk sama buku-buku itu,” “Ya aku sambil belajar, kan kamu tau aku harus menangin lomba ini supaya — “ “Supaya, kamu bisa kasih piala juara itu ke Jake kan?!... dan dia bisa pamerin kesemua orang bahwa anak penyintas kanker bisa juara olimpiade fisika!” kamu benar-benar muak kali ini, untuk tetap duduk ditempat mu bahkan rasanya sudah tak sanggup. “Kamu jangan ngomong gitu dong soal kembaran aku,” Heeseung akan selalu membela saudaranya, Jake. “Apa yang aku omongin itu fakta!, lihat kamu yang sekarang, kamu kayak kehilangan jati diri. Mau gimana pun keadaan Jake sekarang, dia tetaplah dia, kamu gak bisa jadi dia!, kamu bakal kehilangan diri kamu sendiri!!” Heeseung terdiam, dia seolah kehilangan kata-kata, “kalau kamu gak suka kamu bisa pulang,” itu kata terakhir yang kamu dengar dari bibir Heeseung, selanjutnya kamu menarik tas mu keluar dari ruangan itu. Dijalan ada amarah yang masih memuncak, ada pula tirta yang memenuhi pelupuk mata, “kamu bego Heeseung!, mau diperalat sama orang tua yang gak bertanggungjawab,” menggerutu disepanjang jalan sambil terus memikirkan bagaimana indahnya hubungan kalian dahulu. *** Terjebak, mungkin itulah kata yang pantas untuk hidup yang kini Heeseung jalani. Dia mungkin seorang kakak bagi Jake kembarannya, tetapi dia tidak lebih dari bayang-bayang di keluarganya. “Olimpiade fisika dua hari lagi, udah sampai mana persiapannya?” nada dingin itu tercetus dari bibir sosok yang seharusnya bisa ia sebut ibu. Dari ambang pintu kamarnya yang remang-remang Heeseung menjawab, “hampir siap 80% ma. Oh iya ma, boleh gak malam ini makannya sup iga sa —” “Jake gak bisa makan itu, mama udah masakin sup sayur buat nanti malam,” pungkas sang ibu, lalu ia pergi, menbanting pintu kamar. Apa yang dikatakan bayang-bayang adalah ini, Heeseung hidup dilingkungan yang tidak benar-benar mendengarnya. Sebelum jadi mahasiswa dengan nilai predikat tertinggi, dulu Heeseung hanyalah mahasiswa biasa. Dia bahkan pernah jadi salah satu mahasiswa yang mengerjakan tugas beberapa jam sebelum deadline — sungguh berbanding terbalik dengan Jake. Mereka mungkin terlahir kembar, namun punya jiwa dan semangat juang yang berbeda. Diantara keduanya yang paling menonjol adalah Jake, dia jadi mahasiswa yang paling berprestasi dikampus, menyandang begitu banyak pengharagaan, dan tentu saja selalu jadi kebanggaan keluarga. Sampai akhirnya kondisi kesehatan Jake semakin hari semakin menurun, hingga dia dinyatakan mengidap kanker otak, yang mengharuskan dia berhenti total dalam segala kesibukannya selama ini. Tok... tok... |